OJK Tegaskan Stabilitas Sektor Jasa Keuangan di Tengah Tantangan Geopolitik Global

JAKARTA, KABARHIT.COM Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Rapat Dewan Komisioner Bulanan menegaskan bahwa stabilitas sektor jasa keuangan Indonesia tetap terjaga, meskipun dunia tengah menghadapi tantangan risiko geopolitik yang semakin kompleks.

Gejolak geopolitik global, seperti dampak kemenangan Presiden terpilih Donald Trump di Amerika Serikat yang diperkirakan memperburuk tensi perang dagang, serta konflik di Timur Tengah, Ukraina, Asia, dan Eropa, menjadi perhatian utama. Namun demikian, ekonomi global menunjukkan kinerja yang lebih baik dari ekspektasi di beberapa negara utama.

Di Amerika Serikat, indikator pasar tenaga kerja dan permintaan domestik yang kuat memicu tekanan inflasi, sementara di Tiongkok sektor produksi mulai menunjukkan perbaikan meskipun permintaan masih terbatas. Di Eropa, sejumlah indikator ekonomi juga bergerak positif. Kondisi ini membuat bank sentral dunia lebih berhati-hati dalam pelonggaran kebijakan moneter, meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga kebijakan di masa mendatang.

Perekonomian Indonesia Tetap Stabil

Di dalam negeri, perekonomian Indonesia tetap solid dengan pertumbuhan ekonomi triwulan III 2024 mencapai 4,95% secara tahunan (yoy) dan pertumbuhan kumulatif triwulan I-III sebesar 5,03%. Hal ini menunjukkan target pertumbuhan ekonomi di atas 5% sepanjang tahun 2024 masih realistis.

Neraca Pembayaran Indonesia mencatat surplus pada triwulan III, yang mencerminkan ketahanan eksternal yang kuat. Inflasi juga terkendali, khususnya pada komoditas pangan. Namun, OJK menyoroti beberapa indikator yang perlu perhatian, seperti PMI manufaktur yang berada di zona kontraksi, serta penurunan pada penjualan ritel, kendaraan bermotor, dan indeks kepercayaan konsumen.

Kinerja Pasar Keuangan
Pasar saham domestik mengalami pelemahan 6,07% (mtd) hingga 29 November 2024 ke level 7.114,27, meskipun secara tahunan (ytd) hanya turun 2,18%. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp12.000 triliun, turun 5,48% (mtd) namun masih mencatat kenaikan 2,87% (ytd). Sektor basic materials dan properti menjadi yang paling terdampak dari pelemahan ini.

Sebaliknya, pasar obligasi mencatatkan kinerja positif. Indeks pasar obligasi ICBI naik 0,15% (mtd) menjadi 393,14, didorong oleh kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) rata-rata sebesar 8,41 bps (mtd). Namun, investor asing mencatatkan aksi jual bersih sebesar Rp13,07 triliun (mtd).

Di pasar modal, penghimpunan dana tetap positif dengan total nilai Penawaran Umum mencapai Rp219,45 triliun, termasuk IPO dari 34 emiten baru dengan nilai Rp51,20 triliun. Selain itu, terdapat 133 pipeline Penawaran Umum dengan nilai indikatif Rp58,34 triliun.

Peningkatan Securities Crowdfunding

Pada sektor Securities Crowdfunding (SCF), hingga 29 November 2024, telah terdapat 18 penyelenggara berizin OJK yang mencatatkan 694 penerbitan efek dengan total dana sebesar Rp1,33 triliun, melibatkan 170.450 pemodal.

OJK menegaskan komitmennya untuk terus memantau dinamika pasar keuangan global dan domestik, serta menjaga stabilitas sektor jasa keuangan guna mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan.

Editor : Deni